IF IMAGE IS NOT SHOWING - TRY TO RELOAD/REFRESH BROWSER - IF THIS DONT WORK THEN IMAGE SERVER IS DOWN -





IF IMAGE IS NOT SHOWING - TRY TO RELOAD/REFRESH BROWSER - IF THIS DONT WORK THEN IMAGE SERVER IS DOWN -

Welcome to
Daily Kurnia Articles!


A simple page for a brighter future and who needs some thought waxing.





Best view using
Internet Explorer!





This Is A..,
Profanity Free Blog

I am not uppity, this page is dedicated to whoever has a personal or thought relationship with me. I am trying to pursue myself to have a personal ethics code in my Blog entrys. This page will share you all my ideas, thoughts, journeys, or whatever you may called. Feel free to make some some comment about it. I will have no control over what visitors remark in my TagBox, and hope they show some respect on this issue. If you want to use the page layout, be my guest. The code applies here, on Daily Kurnia Articles .
with respect.....,


Kurnia Wahyudi










Birds which wake up earlier, will get bigger worms. What about worms which wake up earlier?
what a pity bird ....!
** meaningless of nothing**




--- MY OTHER BLOGS ---


kurnia.blogdrive.com
article.blogrive.com



** More Later**




       
   
 

<< February 2010 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28



Articles were started to be posted on May 2004. If you are interested in the articles, browse at an opportune month.

Blog Links and misc. stuffs to be posted in this area as soon as I get to it.

 

My Other Blogs:

kurnia.blogdrive.com

article.blogrive.com



You are Guests number:



Since May 1, 2004



Contact Me!


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




Blogdrive


also powered by:


 
May 16, 2004
Surat Terbuka: Catatan Indonesia Pasca 2004

Titip pesan buat Bapak-Ibu Caleg dan Capres!

 

Created: 02 Januari 2004 7:31:47

 

 

 

Bapak/Ibu Caleg-Capres, selamat atas terpilihnya Anda di Pemilu tahun 2004 ini!

 

Pemilu yang diharapkan akan dipenuhi momen monumental dan fenomenal guna membawa Indonesia ke arah masa depan yang lebih baik.  Momen monumental tersebut akan ditandai dengan berlangsungnya Pemilu yang menjanjikan sistem yang berbeda dari pemilu sebelumnya, terlepas dengan adanya kebingungan yang melanda kemungkinan sebagian besar rakyat Indonesia dikarenakan perbedaan besar dari sistem pemilihan kali ini. Maklum sudah delapan kali masyarakat yang sebagian besar belum melek politik ini hanya diajarkan untuk mencoblos gambar seiring dengan janji perubahan keadaan yang lebih baik, mulai dari sandang-pangan-papan yang murah, pendidikan dan kesehatan yang gratis, penggangguran yang tersalurkan, dan masih banyak lagi janji politik kosong yang sepertinya sudah menjadi syarat wajib berkampanye. Belum lagi iming-iming sejumlah uang atau jabatan yang dinaikkan dan disediakan, bila partainya memenangkan pemilihan lokal.

 

Bapak/Ibu Caleg-Capres,mudah-mudahan pemerintahan yang terpilih kita nantinya akan bisa membawa aspirasi rakyat pada umumnya. Kami tidak meminta muluk-muluk asalkan alokasi yang cukup berarti tanpa dikorupsi dari dana pemerintah berupa APBN ke bidang kesehatan masyarakat, peningkatan mutu pendidikan, pengentasan masalah kemiskinan dan pengangguran, serta prioritas domestik lainnya yang mungkin tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

 

Saya mengerti selain permasalahan alokasi dana di atas, akan menghadang permasalahan negara yang besar di hadapan Bapak/Ibu, yakni melindungi integritas dan persatuan Republik Indonesia dalam wadah NKRI dari bahaya disintegrasi sebagai akibat krisis multi dimensi, dan juga upaya untuk melindungi rakyat sipil dari ancaman terror internal seperti bom, bencana alam seperti banjir,  tanah longsor, gempa, dan lain sebagainya. Belum lagi masalah eksternal internasional, salah satunya dengan Amerika. Mungkin ini juga membuat Bapak-Ibu pusing keriting kepalanya.

 

Bapak Ibu Caleg dan Capres, mengenai sikap Amerika terhadap masalah kita terutama masalah ancaman disintegrasi bangsa, khususnya masalah Aceh, Papua dan daerah saudara-saudara kita lainnya, sepertinya, menurut saya, Amerika akan tetap membiarkan Aceh dan Papua sebagai masalah internal Indonesia, demi kepentingan Amerika sendiri. Karena Amerika lebih menginginkan Indonesia dalam suasana yang stabil dan aman baik dalam hal politik maupun ekonomis, guna membantu revitalisasi ASEAN demi kepentingan perekonomiannya. Karena ada PR (pekerjaan rumah) besar buat Amerika yakni mengentaskan masalah krisis ekonomi internal negaranya dan mengembalikan perekonomiannya yang cenderung kian terpuruk.

 

Saat ini, Amerika lebih melihat Cina sebagai ancaman besar buat negaranya, selain tentunya isu "terorisme“ yang sudah pasti menjadi isu abadinya. Konfontasi dengan Cina dalam bidang ekonomi, politik, dan kemungkinan besar pula di bidang militer di kemudian hari, cenderung membuat Amerika memilih untuk membuat suasana stabilitas di wilayah Asean terlebih dulu. Karena pengaruh ketidakstabilan Asia Tenggara akan berpengaruh terhadap stabilitas Asia secara keseluruhan, yang berakibat mengecilkan peran Amerika di Asia.Yang amat ditakutkan oleh Amerika adalah peran pengendali keamanan regional Asia Tenggara dipegang oleh Cina berkenaan dengan perannya atas klaim masalah status perairan Laut Cina Selatan.

 

Sebaliknya Bapak-Ibu Caleg-Capres, Cina kian berbenah dan menyiapkan diri guna memenuhi ambisinya. Hal tersebut bisa dilihat dalam keberhasilan membuat iklim negaranya menjadi tempat yang baik untuk berinvestasi. Sebagai contoh, sebagian besar pengusaha Jepang saat ini lebih melirik untuk membuka plant-plant baru dan menanamkan investasinya di Cina, ketimbang Indonesia. Tenaga kerja yang melimpah, murah dan handal, regulasi ekonomi yang jelas dan menunjang bagi para investor, suasana politik dalam negeri yang relatif lebih stabil, ketersediaan lahan industri yang luas ditunjang dengan sarana dan prasarana yang cukup memadai, dan keunggulan teknologi yang mumpuni. Ditambah faktor geografis kedekatannya dengan Jepang, membuat Jepang lebih tertarik untuk berinvestasi di Cina, ketimbang Indonesia.

 

Belum cukup sampai disitu , Bapak-Ibu,  Cina kian mengembangkan sayap guna menarik perhatian dunia melalui kiprahnya dalam hal pendaratan manusia di bulan, menempatkan Cina sebagai negara ketiga setelah Rusia dan Amerika. Hal ini cukup untuk membuat Cina dilirik dan mensejajarkan dirinya di antara dua negara adidaya tersebut dalam hal teknologi ruang angkasa. Sekali lagi belum cukup, guna lebih meyakinkan dunia, Beijing pun telah siap sebagai penyelenggara Olympiade 2008 dan membangun stadion yang megah guna memenuhi ambisinya untuk mewujudkan pertandingan-pertandingan terbaik dalam sejarah olah raga. Perencanaan jangka panjang dan matang telah disiapkan pemerintah Cina dan Cina akan membuka babak baru perekonomian dunia dalam kurun waktu 5 - 10 tahun mendatang.

 

Bapak-Ibu Caleg-Capres, kebanggaan sebagai bangsa itu dulu pernah ditunjukkan oleh profil seorang Bung Karno sebagai Bapak Revolusi Indonesia. Kebanggaan bersifat materil ditunjukkan melalui pelaksanaan proyek mercu suarnya dalam upaya menempatkan Indonesia sebagai the New Emerging Force (Kekuatan Baru yang Sedang tumbuh) di dunia. Dari mulai pembangunan Jalan Raya Semanggi dengan disain layaknya buah semanggi yang khas sebagai sarana infrastruktur pertama kota Jakarta sebagai Ibukota Indonesia, dilanjutkan dengan pembangunan Tugu Monas dan Mesjid Istiqlal serta Hotel Indonesia. Masih belum cukup,  guna penyelenggaran Ganefo (Games of New Emerging Forces) dalam rangka upaya menandingi event Olympiade yang diadakan di negara-negara barat saat itu, pembangunan stadion utama Senayan pun dilakukan. Gedung Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) --sebagai cikal bakal Gedung MPR dan DPR sekarang- guna menandingi gedung markas PBB juga tidak luput dari bagian proyek ambisius tersebut.

 

Upaya tersebut cukup membuat Indonesia diperhitungkan di mata dunia sebagai mata rantai penting stabilitas ekonomi dan politik Asia, khususnya Asia Tenggara. Tapi sayangnya, hal tersebut tidak dapat menolong wajah perekonomian Indonesia yang saat itu carut maruk akibat pasca perang, ditandai dengan kemiskinan yang meluas di kalangan rakyat di mana-mana.  Tapi usaha untuk membuat perhatian dunia meilirik kepada Indonesia bisa dikatakan berhasil. Sayangnya pemerintahan Orde Lama tidak berhasil meraih keuntungan dari trend-setting yang telah dibuatnya, justru sebaliknya pemerintahan Orde Baru-lah yang mendulang keberhasilan hasil “lirikan” dunia ke Indonesia.  Sayangnya sekali lagi, pemerintahan Orde Baru memanfaatkan aji mumpung dalam menikmati kucuran dana bantuan dari luar negeri, dan seperti umumnya sindrom negeri baru pasca revolusi panjang penjajahan, pemlitiran azas manfaat pun kian meraja lela dalam bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme.

 

Bapak-Ibu Caleg-Capres, saya pernah ingat, M.Baiquni dalam Catatan "Workshop on Regional Economy and Policies in Indonesia" Leiden, Belanda, 15-17 Mei 2000 pernah menyatakan bahwa  “Pembangunan pada masa Orde Baru lebih menitik beratkan pada persoalan ekonomi. Kerusakan ekonomi Orde Lama dicoba diatasi dengan mengundang kekuatan asing melalui utang luar negeri. Pembangunan dikembangkan diatas konsep yang telah dikaji dan dikembangkan di negara maju, yang kemudian dianggap menjadi resep mujarab untuk mengatasi krisis multidimensi tahun 1960an. Kelompok ekonom Berkley misalnya, merupakan salah satu yang mewarnai kebijakan ekonomi; demikian pula para ahli Bank Dunia, IMF dan konsultan negara maju mendominasi arah kebijakan pembangunan Orde Baru“.

 

Selanjutnya, ujung perjalanan Orde Baru pada akhirnya menimbulkan kesenjangan ekonomi yang semakin melebar di masyarakat dan ketimpangan ekonomi pusat-daerah. Monopoli dan penguasaan aset pembangunan oleh segelintir konglomerat ditengah masa rakyat yang melarat menjadi fenomena pembangunan. Utang luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta telah menyeret kehancuran ekonomi yang kini menjadi beban rakyat banyak. Pada akhirnya, kondisi itu membawa Indonesia pada situasi krisis di bidang ekonomi. Krisis ekonomi kemudian berubah menjadi krisis multidimensi, hubungan pusat dan daerah pun terjadi ketegangan dan kerenggangan.

 

Saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahan bila kondisi politik yang lebih stabil dicapai dapat membuat Bapak-Ibu bisa lebih berkonsentrasi untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut di atas. Mudah-mudahan stabilitas politik tersebut dapat dicapai melalui peningkatan situasi perekonomian yang lebih baik dan kondusif atau dengan membuat iklim partisipasi politik ke arah demokrasi yang lebih sehat.

 

Bila dilihat dari kaca mata sejarah, kondisi Indonesia di era Revolusi Informasi saat ini sepertinya tidak jauh berbeda dengan negara-negara di awal abad dua puluhan di Barat di era Revolusi Industri dulu. Pada saat itu, mereka membutuhkan peningkatan kesempatan pendidikan, pemerataan dalam hal pembangunan, peran yang lebih besar dalam berpartisipasi di bidang politik dan pemerintahan, dan keamanan serta kedamaian penduduk sipil (masyarakat). Ini hampir mirip dengan keinginan kami dan mungkin aspirasi sebagian besar penduduk Indonesia, bahwa kami membutuhkan perubahan kondisi perekonomian yang lebih berarti, pencerahan dalam hal pendidikan supaya dapat lebih menyentuh segenap masyarakat, kebebasan dari kekerasan akibat isu sentimen beragama, dan kepastian akan pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

 

Apakah kondisi ini akan semakin buruk atau berangsur bertambah baik? Tergantung bagaimana kesepakatan baru dan barangkali perlu pemaknaan baru pula menyikapi hasil Pemilu 2004 ini nantinya dari para Caleg dan Capres seperti Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Pemerintahan 2004 dari Bapak-Ibu Caleg dan Capres terpilih nantinya harus mampu dan secara sungguh-sungguh mengembangkan dan mewujudkan dalam kebijakan pembangunan akan aspirasi seluruh rakyat Indonesia, terutama mayoritas wong cilik. Sejarah telah memberi pelajaran, namun apakah kita bersedia belajar untuk meniti masa depan? Hanya kita yang dapat menjawabnya.

 

 

 

Kurnia Wahyudi



Posted at 12:05 pm by koer

Make a comment <-- click here



 
May 15, 2004
Cerita Dari Angkot: Direct Selling

Created: 24 March 2004 13:34:15

 

 

Pukul 6.20, berarti aku keluar rumah sepuluh menit lebih cepat dari biasanya untuk berangkat ke kantor. Ini kali pertama aku berangkat lebih awal, biasanya aku pergi tepat pukul 6.30. Aku yakin pasti angkutan umum mikrolet nomor 03 yang kutumpangi masih lenggang.

 

Benar saja, lepas keluar dari gang rumah, angkutan umum yang ingin kutumpangi pun berhenti tepat di depanku dan lumayan kosong hanya sekitar tujuh orang di dalamnya.

 

Kurang dari sepuluh menit perjalanan aku sampai di jalan raya Lapangan Ros Selatan di samping Stasiun Tebet.  Mikrolet M44 yang akan membawaku ke tempat kerja sedang asyik ”ngetem“ kosong melompong hanya ditunggangi sang sopir. Bergegas aku menuju kearahnya dan mengambil posisi favoritku, tempat duduk mojok paling belakang, berhubung aku bakalan turun di akhir rute.

 

Tak lebih semenit aku merasakan nikmatnya bangku mikrolet kosong, serombongan laki-laki setengah baya berlari ke arah mikrolet yang ku tumpangi. Tampaknya mereka baru turun dari kereta Jabotabek tujuan Kota, perkiraanku mereka dari arah Depok sekitarnya. Dari tampak sekilas perawakannya, sepertinya mereka adalah rombongan pekerja harian atau pegawai perusahaan bangunan.

 

Aku pun memberi ruang untuk mereka mengambil tempat duduk. Sepertinya aku sendiri yang berpenampilan paling perlente di dalam mobil. Tapi, niat ujub dalam diriku ku tepis jauh-jauh seraya mengucapkan istighfar. Hanya dalam hati aku tersenyum, teringat pesan guru ngajiku, kiranya pakaian yang kita kenakan dapat menggelincirkan seseorang ke dalam sikap riya’ dan sombong hingga membawanya ke jurang syirik kecil. Dan fenomena itu sekarang ada di depan mataku saat ini.

 

Kembali ke rombongan laki-laki tadi, tampaknya di antara meraka sudah saling mengenal satu sama lain dan sepertinya berasal dari satu tempat pekerjaan, karena mereka kerap menyebut nama yang aku perkirakan adalah pemilik atau mandor tempat mereka bekerja.

 

Canda dan percakapan mereka mendominasi suara di dalam angkot, hingga akhirnya topik pembicaraan beralih serius, membahas masalah pemilu. Seorang Bapak berperawakan paling gemuk dengan jambang, jenggot serta kumis yang cukup lebat duduk tepat di hadapanku membuka percakapan,

 

”Nah Pemilu nanti neh bakal seru!“ kental dengan logat betawi campur sundanya.

 

”Nape emangnye?“ kawan di sisi kanannya menimpali.

 

”Pan partainya banyak tuh, bakalan pusing milihnye! Ade berape empat lapan ye?” terangnyanya dengan penuh yakin.

 

Langsung dengan sigap kawan yang berada di sisi kanan serta sisi kiriku menimpali, ”Dua empat lag! Empat lapan mah pemilu lalu”

 

“Loh jadi dua empat ye? Kemane yang laennye? Rontok? Wah bagus lah, jadi nggak pusing milihnye?”

 

”Emangnye elo mo milih ape ?” kawannya yang di sisi kiriku bertanya.

 

”Em... kayaknye yang perlu diperatiin partei keadilan nih,”  jawabnya bak pengamat politik ulung, aku pun tersenyum melihat gayanya sembari menunduk takut terlihat tidak sopan.

 

”Maksud elo nomor 16! Partai Keadilan Sejahtera,” sembari melihat ke arah temannya yang lain yang kebetulan sedang memakai topik PKS yang lumayan “classy” menurutku.

 

“Iye! Nah elo sendiri bakal milih ape?” Bapak gemuk di depanku balik bertanya kepada temannya.

 

”Belon tau sih, mungkin nomor 24, kali?” sahutnya dengan tidak yakin,”Nyoblosnye aje masih bingung” lanjutnya.

 

Akhirnya, aku pun nggak kuasa menahan diri untuk tidak ikut urun-rembug. Setelah sebelumnya permisi minta maaf untuk bisa ikutan nimbrung dan memperkenalkan diri, aku menunggu gesture (bahasa tubuh) mereka, apakah menerima (welcoming) atau tidak. Ternyata, mereka welcome dan aku pun meneruskan percakapanku. Di dalam hati aku berpikir bagaimana melakukan direct selling yang cepat dan tepat, karena sepertinya tak lama lagi mereka dan aku bakalan turun dari mobil. Cepat aku berpikir dan mengingat apa bahasan terakhir topik percakapan mereka.

 

 

 

“Ngomong-ngomong, Bapak-Bapak sudah tahu cara memilihnya?”

 

“Belum, Mas!” hampir serempak sekitar sembilan orang menjawab.

 

Akhirnya, bak macam iklan KPU yang anak mahasiswa ditanya oleh seorang wanita di dalam mikrolet pula aku menerangkan kepada mereka. Cuma dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti oleh mereka.

 

”Bapak-bapak di tanggal 5 April nanti bakalan milih untuk anggota DPR Pusat, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten atu Kotamadya, dan DPD. Makanya, Bapak-Bapak bakalan dapet 4 kertas suara. DPR Pusat itu yang buat MPR/DPR yang kantornya di Senayan itu loh Pak, terus yang DPRD itu kayak MPR/DPR tapi buat yang di tingkat lokal Provinsi dan Kabupaten atau Kotamadya untuk daerah tempat Bapak tinggal, contoh DPRD Jakarta dan DPRD Jakarta Timur, atau conoth lain DPRD Bogor dan DPRD Depok, tergantung daerah pemilihan Bapak-Bapak. Satu lagi yang DPD itu buat tingkat Provinsi ajah. “ terangku layaknya petugas dari KPU

 

”Terus bedanya DPRD yang provinsi dengan DPD itu apa, Mas?“ penumpang yang di sisi kiriku yang belum yakin memilih partai nomor 24 bertanya.

 

”Wah Bapak ini kritis juga!“ jawabku seraya memuji, ”Kalo DPRD itu dari partai-partai peserta Pemilu Pak sedangkan kalo DPD adalah orang-orang pribadi bukan dari partai yang mencalonkan dirinya menjadi anggota DPR daerah.“

 

”Wah, berarti mereka-mereka yang buat DPD itu orang-orang kaya ya Mas. Ikutan kayak gitu kan duitnya kudu banyak. Bikin poster, spanduk kan mahal. Gile beneeer!“

 

Semobil kita semua tertawa, paling tidak aku melihat dua orang lain di bangku tambahan dekat pintu tersenyum. Sepertinya mereka bukan rekan-rekan para Bapak yang saya ajak ngobrol ini, terlihat dari gaya penampilannya yang berbeda, hampir mirip dengan saya.

 

”Iya, Pak! Makanya kertas suara nantinya untuk milih mereka juga beda. Ada potonya!“

 

”Oh, beda ya, Mas!“, Bapak yang persis di depan saya sembari menyorongkan badannya bertanya seakan tidak percaya.

 

”Iya, Pak! Nantinya Bapak akan menerima tiga surat suara, seperti saya bilang tadi, surat suara untuk DPR, untuk DPRD, dan untuk DPD. Untuk surat suara yang DPR dan DPRD, Bapak-Bapak diminta kalo bisa selain mencoblos gambarnya, Bapak juga diminta untuk mencoblos nama calon yang Bapak inginkan. Contoh, misalnya Bapak ingin memilih Partai Keadilan Sejahtera No.16, seperti yang Bapak ini bilang tadi, Bapak coblos tanda gambarnya, terus pilih cari nama yang Bapak kenal di partai 16 itu. Tapi kalo Bapak nggak mau pusing, karena Bapak tahu kalo semua calon di partai itu bersih-bersih dan memegang amanat rakyat, yah Bapak coblos tanda gambar partai nomor 16 PKS saja juga nggak apa-apa,” aku berusaha menjawabnya dengan mengarahkan tanpa terkesan mendikte.

 

”Nah, untuk yang DPD, Bapak tinggal coblos foto orang yang Bapak kenal baik pribadi dan perjuangannya, jangan sekedar tampangnya ya Pak. Nanti mentang-mentang cowok, Bapak pilih gambar foto cewek yang paling cakep lagi!”, Jelasku sembari bergurau seraya ditimpali komentar canda yang nggak jelas karena mereka semua berbicara.

 

”Gitu loh Pak! Gampang kan Pak? Nggak musingin!”

 

”Iye ..ye sekarang rada jelasan! Eh udah mao nyampe tuh. Bang depan stop Bang! Makasih ya mas, udah diterangin. Aye udah mantep deh!” sembari beranjak turun mendorong-dorong bercanda rekan-rekannya,  “Coblos 16! Parte Keadilan deh!

 

“Yoi! Nomor 16!”

 

“Kayak puyer!” Temannya yang lain menimpali.

 

Aku pun tersenyum bahagia dan puas melihat tingkah dan respon mereka, sambil berdoa semoga mereka digerakkan hatinya untuk memilih si 16 di 5 April nanti. Aku bukan kader PKS sekedar simpatisan, terlebih lagi karena satu dan lain hal aku tidak terdaftar menjadi pemilih di 5 April nanti, tapi yang aku lakukan sekarang ini, Insya Allh dalam rangka mengembalikan suaraku yang hilang dan sekaligus rangkaian ibadah yang paling kecil bisa aku lakukan.

 

Teringat aku akan tulisan Reicheld - Director Emeritus dari Bain & Company di Boston, salah seorang begawan teori marketing mengenai loyalitas pelanggan. Kurang lebih bunyinya seperti ini, ”Loyality is not a repetition. Loyality is shown by how confindence a customer to refer pur product to the others.” Kesetiaan bukan hanya ditandai dengan pengulangan pembelian sebuah produk oleh seorang pelanngan. Terkadang seorang pelanggan membeli kembali sebuah produk dikarenakan tidak adanya produk pembanding yang lain atau karena mereka tidak mau pusing secara administratif. Kesetiaan seorang pelanggan dapat ditunjukan melalui keinginan pelanggan tersebut untuk mereferensikan sebuah produk ke orang lain. Itu lah kekuatan pemasaran dari mulut ke mulut yang tentunya paling efektif dan murah-meriah. Customer refferal juga dapat menunjukkan seberapa borosnya kita mengalokasikan dana untuk pemasaran produk kita. Semakin banyak orang memilih produk kita dikarenakan referensi orang lain, semakin efektif dan hemat teknik pemasaran kita. Salah satu bentuknya dapat dilakukan dengan cara Direct Selling!

 

Reichheld juga mengatakan bahwa loyalitas tinggi adalah hasil langsung dari perkataan dan sikap moral – baik dalam hal pengambilan keputusan maupun pelaksanaannya – dari eksekutif-eksekutif puncak yang memiliki integritas pribadi. Loyalitas tersebut tidak dapat dibangun oleh karyawan-karyawan muda berbakat, teknologi, atau strategi sekalipun.

 

Mungkin bila PKS membuat Customer Survey Index dan mencantumkan pertanyaan, contoh; dari rating 1 (terkecil) hingga 10 (terbesar) - Akankah Anda akan mereferensikan produk PKS ke rekan Anda yang lain. Maka saya akan dengan penuh keyakinan akan memberi nilai 10. Dan bila ada pertanyaan lain; dari manakah Anda mengenal produk kami (PKS), maka akan saya jawab: Dari teman.

 

Semoga Allah menjaga produk yang lebih bersih dan peduli satu ini, dan membuatNya menjadi produk yang paling banyak diminati orang. Insya Allah!

 

 

 

Kurnia Wahyudi

 



Posted at 11:32 am by koer

Make a comment <-- click here